Ahmad Fairouz Adzmi - Pendaki pemula harus tahu: cara cegah cedera dan sakit saat mendaki gunung

Pendaki pemula harus tahu: cara cegah cedera dan sakit saat mendaki gunung


 Aktivitas mendaki gunung menjadi pilihan populer bagi pecinta alam dan pencari petualangan. Namun di balik keindahan alam pegunungan, terdapat risiko kesehatan yang sering kali diabaikan, terutama oleh pendaki pemula.


Bekasi, 13 Mei 2025 – Aktivitas mendaki gunung menjadi pilihan populer bagi pecinta alam dan pencari petualangan. Namun di balik keindahan alam pegunungan, terdapat risiko kesehatan yang sering kali diabaikan, terutama oleh pendaki pemula. Cedera, kelelahan, dan penyakit akibat cuaca ekstrem dapat mengancam keselamatan jika pendakian dilakukan tanpa persiapan yang memadai. dr Bambang mengatakan, altitude sickness dapat terjadi saat pendakian 5000 mdpl hingga 8000 mdpl. “Tidak bisa kalau naik gunung tanpa persiapan. Harus tahu bahwa berada di ketinggian risikonya apa kalau tidak persiapan,” kata Ketua Departemen Anasteseologi dan Reaminasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut. Altitude sickness dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti Acute Mountain Sickness (AMS), High Altitude Pulmonary Edema (HAPE), dan High Altitude Cerebral Edema (HACE).

Potret salah satu gunung di indonesia


Untuk memberikan gambaran nyata mengenai risiko tersebut, kami berbicara dengan dua pendaki berpengalaman yang membagikan kisah serta tips mereka.

Fauzan Rizky (20), pendaki yang baru pertama kali mendaki gunung tahun ini, berbagi pengalamannya saat mendaki Gunung Butik. “Saya pikir naik gunung itu cuma soal kuat jalan. Ternyata butuh persiapan fisik dan mental. Di tengah jalan saya kram parah karena belum terbiasa jalan jauh. Selain itu, saya lupa makan cukup sebelum naik, jadi cepat lelah,” ungkapnya. Meski sempat kesulitan, Fauzan tidak kapok. Kini, ia mulai rutin olahraga dan mencari informasi lebih banyak sebelum naik gunung berikutnya.

Berbeda dengan Fauzan, Dwi Fazri (19) sudah cukup berpengalaman. Ia telah mendaki beberapa gunung besar seperti Prau dan Cikuray sejak SMA. Dwi mengaku pernah menyaksikan banyak pendaki pemula yang kelelahan karena memaksakan diri. “Saya sering lihat pendaki baru yang semangat di awal, tapi cepat tumbang karena salah strategi. Sering juga yang enggak bawa cukup air atau pakai sepatu yang tidak cocok,” katanya.

Fazri menekankan pentingnya perencanaan logistik dan menjaga ritme tubuh selama pendakian. “Jangan buru-buru. Lebih baik lambat tapi stabil daripada cepat lalu kehabisan tenaga,” tambahnya.

Agar pendakian tetap aman dan menyenangkan, berikut beberapa tips dari para ahli dan pendaki:
1.    Latihan Fisik Sebelum Mendaki
        Lakukan olahraga rutin, seperti lari, naik turun tangga, dan latihan kekuatan otot kaki dan punggung setidaknya dua minggu sebelum mendaki.
2.    Gunakan Perlengkapan yang Sesuai
        Sepatu gunung yang nyaman dan anti selip, pakaian berlapis, jaket tahan angin, serta carrier yang ergonomis sangat penting untuk keselamatan.
3.    Jaga Asupan Nutrisi dan Cairan
        Bawa makanan ringan tapi bergizi, seperti cokelat, kacang-kacangan, dan energy bar. Minumlah air secara berkala meskipun tidak merasa haus.
4,    Istirahat Teratur dan Dengarkan Tubuh
        Jangan paksakan diri jika merasa lelah. Istirahat 5–10 menit setiap satu jam pendakian bisa menjaga stamina dan mencegah cedera.
5.    Waspadai Gejala AMS (Acute Mountain Sickness)
        Pusing, mual, lemas, dan sesak napas bisa menjadi tanda tubuh tidak kuat di ketinggian. Jika ini terjadi, segera berhenti dan turun ke ketinggian yang lebih rendah.
6,    Bawa Kotak P3K dan Obat Pribadi
        Selalu siapkan antiseptik, perban elastis, plester, dan obat-obatan dasar. Jangan lupakan obat khusus jika memiliki penyakit tertentu.
7.    Hindari Mendaki Sendirian
        Pendakian kelompok lebih aman. Pastikan komunikasi antar anggota terjaga dan semua memiliki pengetahuan dasar pertolongan pertama.

“Puncak memang menggoda,” ujar Fauzan. “Tapi saya sadar sekarang, mendaki itu soal tanggung jawab terhadap diri sendiri dan teman - teman.”

Fazri pun mengingatkan, “Gunung tidak ke mana-mana. Kalau belum siap, lebih baik tunda daripada memaksakan diri dan membahayakan nyawa. ”

Dengan persiapan yang baik, pendakian bisa menjadi pengalaman yang tak hanya menyenangkan, tapi juga menyehatkan tubuh dan pikiran. Ingatlah bahwa gunung akan selalu ada. Tapi kesempatan untuk mendaki dengan aman harus direncanakan dengan bijak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abelio Vallen Koloay - Mahasiswi ITB Jadi Tersangka Usai Unggah Meme Kontroversial Prabowo-Jokowi di X

Cindy Herdiana - Menjelang Idul Adha, Penjualan Sapi Qurban di Cikarawang Dramaga Mulai Ramai (sosial budaya)

Nenty Kuliner dan wisata