Nabila Nayla Ernes_Film “Pengepungan di Bukit Duri” Gegerkan Penonton, Kenangan Lama Dibuka Kembali_01BA06_(Berita hiburan)
Film “Pengepungan di Bukit Duri” Gegerkan Penonton Bioskop, Kenangan Lama Dibuka Kembali
Jakarta, 13 Mei 2025 – Film dokumenter Pengepungan di Bukit Duri yang tayang perdana pada Minggu malam di Kineforum Taman Ismail Marzuki sukses menggugah emosi para penonton.
Film ini merekonstruksi secara detail peristiwa penggusuran permukiman warga Bukit Duri oleh aparat pada tahun 2016, film ini menampilkan kisah nyata dari warga yang kehilangan rumah dan kehidupannya akibat penggusuran paksa, lengkap dengan footage arsip dan wawancara eksklusif.
Disutradarai oleh Joko Anwar, film ini melibatkan puluhan warga Bukit Duri yang dulu menjadi korban penggusuran. Penonton yang hadir termasuk aktivis HAM, mahasiswa, dan warga yang terdampak langsung, Hal ini diungkap oleh Joko Anwar saat diwawancarai oleh media yang lain seusai selesai screening terbatas film Pengepungan di Bukit Duri letak nya di Senayan City, pada hari Sabtu (15/2/2025).
Film ini tayang perdana pada 17 April 2025 dan menggambarkan peristiwa pengepungan yang terjadi pada September 2016, film berfokus pada Bukit Duri, Jakarta Selatan, salah satu titik konflik antara pemerintah dan warga soal pengelolaan bantaran sungai.
Film ini bertujuan membuka kembali ruang diskusi publik mengenai hak atas kota dan keadilan ruang bagi warga miskin kota, Respons penonton penuh emosi.
Beberapa terlihat menangis saat menonton. Berikut kutipan reaksi dari beberapa narasumber:
"Film ini benar-benar menghadirkan alur yang di luar dugaan, dengan plot twist yang mengejutkan mengenai keponakan Pak Edwin. Sejak awal, saya mengira Kristof adalah keponakan tersebut karena banyak kesamaan dengan yang diperkirakan Pak Edwin. Namun ternyata, yang dimaksud adalah Jefri tokoh yang sangat kejam. Hal ini benar-benar tidak saya duga. Aksi para aktor juga luar biasa dan penuh totalitas; mereka berhasil membawakan emosi marah, benci, hingga duka dengan sangat meyakinkan. Terlebih lagi, karakter yang mereka perankan sangat bertolak belakang dengan sifat asli mereka. Yang paling mengejutkan, film ini ternyata diangkat dari kisah nyata, membuat saya semakin takjub." Ujar Lia (20) sebagai penonton film asal di Bandung.
Namun adapun narasumber lainnya yang juga ikut merasakan hal serupa:
"Secara keseluruhan, saya menyukai film ini. Pemilihan pemain sangat tepat, alur ceritanya pun menarik, dan latar belakang film terasa pas. Suasana yang dihadirkan juga sangat mendukung, sehingga penonton dapat terbawa ke dalam cerita terkadang terasa lucu, namun lebih sering menegangkan, sesuai dengan genre thriller yang diusung. Saya sangat mengapresiasi film ini. Semoga perfilman Indonesia semakin maju dan mampu menembus go internasional. Keren!" Ujar Syifa (23) sebagai penonton film asal di Sumedang.
Film ini bukan sekadar karya sinema ia adalah bentuk perlawanan yang halus namun menggugah, yang berbicara lewat adegan, dialog, dan diam-diam menyentuh sisi terdalam kemanusiaan kita. Ia mengingatkan kita bahwa pembangunan kota tidak boleh dibayar dengan penghapusan sejarah, apalagi dengan mengorbankan suara dan keberadaan mereka yang paling rentan. Kota bukan hanya tentang gedung-gedung tinggi dan trotoar rapi, tapi juga tentang ruang hidup yang adil, tempat di mana setiap orang tanpa terkecuali punya hak untuk tinggal, bertumbuh, dan didengar. Film ini menjadi pengingat yang tajam bahwa luka sosial tidak bisa disapu di bawah karpet modernisasi. Justru dari luka itulah, kita harus mulai merajut ulang keadilan bagi semua.


Komentar
Posting Komentar