Eni Uliana Angelia Tamba _"Pembantaian Dukun Santet: Teror, Fitnah, Menggali Luka Sejarah"_1ba06_berita hiburan






Mei 13,2025


Pembantaian Dukun Santet: Teror, Fitnah, Menggali Luka Sejarah




 poster pembantaian dukun santet





Film Pembantaian Dukun Santet karya sutradara Azhar Kinoi Lubis hadir sebagai sebuah tontonan horor dan teror yang berbeda dan lebih membekas, lebih menyakitkan, dan lebih nyata. Terinspirasi dari kisah nyata tragedi berdarah di Banyuwangi tahun 1998 yang sempat viral diperbincangkan di media sosial dan menuai kontroversi, film ini menyuguhkan kisah mencekam tentang kekerasan massal terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet tanpa adanya bukti yang jelas. Para korban tidak hanya terdiri dari para dukun, tetapi juga mencakup ulama, guru pesantren, serta masyarakat umum yang terjebak dalam fitnah.

Lewat sudut pandang Satrio (Kevin Ardilova), seorang santri muda yang berjuang melindungi keluarganya dari amukan massa, penonton diajak menyaksikan bagaimana ketakutan bisa menjelma menjadi amarah yang membabi buta. Didukung akting kuat dari Aurora Ribero dan Kaneishia Yusuf, film ini tak sekadar menakut-nakuti, tapi juga menyentuh sisi kemanusiaan yang rapuh dan rentan terhadap propaganda.



film pembantaian dukun santet (TIX ID)

Sinematografi gelap dan tata suara yang menekan berhasil membangun suasana mencekam sejak awal. Ketegangan dalam film ini lebih banyak datang dari suasana dan situasi sosial yang tidak stabil, bukan dari hantu atau makhluk gaib. Justru itulah yang membuat film ini terasa lebih horor karena yang ditakuti adalah manusia itu sendiri.

Pendapat dari penonton pun beragam. Trixa (15), penonton asal Bekasi, mengaku film ini membuatnya emosional. “Saya pikir ini film horor biasa, tapi ternyata sangat emosional. Saya sampai menangis karena merasa ngeri, bukan karena hantu, tapi karena membayangkan bagaimana kalau saya atau keluarga saya hidup di zaman itu,” ungkapnya usai menonton di salah satu bioskop. Sementara itu, Sari (49), penonton dari Bekasi, menyatakan bahwa film ini membuka pikirannya terhadap sejarah yang selama ini jarang dibahas. “Saya baru tahu bahwa pembantaian dukun santet itu benar-benar terjadi. Film ini bikin saya sadar, betapa bahayanya kalau masyarakat mudah terprovokasi. Ini film penting, meskipun berat untuk ditonton,” katanya.

Dengan penayangan yang dimulai sejak 8 Mei 2025, Pembantaian Dukun Santet bukan hanya menawarkan teror sinematik, tapi juga refleksi sosial. Film ini menjadi pengingat bahwa luka sejarah tidak bisa disembuhkan jika terus disembunyikan. Dan lewat sinema, setidaknya kita bisa mulai berdialog tentangnya — meski dengan perasaan perih.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abelio Vallen Koloay - Mahasiswi ITB Jadi Tersangka Usai Unggah Meme Kontroversial Prabowo-Jokowi di X

Cindy Herdiana - Menjelang Idul Adha, Penjualan Sapi Qurban di Cikarawang Dramaga Mulai Ramai (sosial budaya)

Nenty Kuliner dan wisata