Eni Uliana Angelia Tamba _"Pembantaian Dukun Santet: Teror, Fitnah, Menggali Luka Sejarah"_1ba06_berita hiburan
Sinematografi gelap dan tata suara yang menekan berhasil membangun suasana mencekam sejak awal. Ketegangan dalam film ini lebih banyak datang dari suasana dan situasi sosial yang tidak stabil, bukan dari hantu atau makhluk gaib. Justru itulah yang membuat film ini terasa lebih horor karena yang ditakuti adalah manusia itu sendiri.
Pendapat dari penonton pun beragam. Trixa (15), penonton asal Bekasi, mengaku film ini membuatnya emosional. “Saya pikir ini film horor biasa, tapi ternyata sangat emosional. Saya sampai menangis karena merasa ngeri, bukan karena hantu, tapi karena membayangkan bagaimana kalau saya atau keluarga saya hidup di zaman itu,” ungkapnya usai menonton di salah satu bioskop. Sementara itu, Sari (49), penonton dari Bekasi, menyatakan bahwa film ini membuka pikirannya terhadap sejarah yang selama ini jarang dibahas. “Saya baru tahu bahwa pembantaian dukun santet itu benar-benar terjadi. Film ini bikin saya sadar, betapa bahayanya kalau masyarakat mudah terprovokasi. Ini film penting, meskipun berat untuk ditonton,” katanya.
Dengan penayangan yang dimulai sejak 8 Mei 2025, Pembantaian Dukun Santet bukan hanya menawarkan teror sinematik, tapi juga refleksi sosial. Film ini menjadi pengingat bahwa luka sejarah tidak bisa disembuhkan jika terus disembunyikan. Dan lewat sinema, setidaknya kita bisa mulai berdialog tentangnya — meski dengan perasaan perih.


Komentar
Posting Komentar