Achmad Ammar Asshobirin Krisis Sampah Plastik di Bekasi: Ancaman yang Terus Mengintai Lingkungan dan Kesehatan Warga Bekasi (Lingkungan Hidup)




 Bekasi – Kota dan Kabupaten Bekasi tengah menghadapi krisis lingkungan yang kian mendesak: penumpukan sampah plastik di berbagai sudut kota, khususnya di aliran Kali Bekasi dan saluran-saluran air permukiman padat penduduk.


Menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, sebanyak 800 hingga 1.000 ton sampah dihasilkan setiap hari, dan sekitar 32% di antaranya merupakan plastik sekali pakai, seperti kantong kresek, botol air mineral, sedotan, dan kemasan makanan.


“Sungai dan selokan kami kini bukan lagi jalur air, melainkan seperti tempat pembuangan sampah terbuka,” ujar Yudhianto, Kepala DLH Kota Bekasi, dalam konferensi pers pada awal Mei 2025. Ia menambahkan bahwa sebagian besar sampah tersebut akhirnya terbawa ke Kali Bekasi, mencemari ekosistem air dan menurunkan kualitas lingkungan sekitar.


Kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, serta kurangnya fasilitas pengolahan limbah di beberapa wilayah padat seperti Pondok Gede, Jatiasih, dan Medansatria. Meski pemerintah daerah telah menyediakan 30 titik bank sampah, kapasitasnya belum mencukupi untuk menampung seluruh limbah plastik dari penduduk kota yang jumlahnya lebih dari 2,5 juta jiwa.


Dampak Terhadap Kesehatan dan Lingkungan


Penumpukan sampah plastik tak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menimbulkan dampak serius bagi kesehatan masyarakat. Warga Kelurahan Bintara dan Margahayu mengeluhkan banjir ringan yang kini semakin sering terjadi, meski hujan tak terlalu deras. Setelah ditelusuri, tumpukan sampah yang menyumbat saluran air menjadi penyebab utamanya.


“Air got naik sampai ke rumah. Baunya menyengat, dan banyak nyamuk. Anak saya sempat kena diare karena air tercemar,” kata Rina (38), warga RT 05 RW 02, saat ditemui di lokasi. Selain banjir, keberadaan sampah plastik juga memperparah pencemaran udara akibat pembakaran liar oleh warga yang tidak tahu cara membuang sampah dengan benar.


Studi dari Universitas Islam 45 Bekasi juga menunjukkan bahwa kandungan mikroplastik mulai terdeteksi pada air sumur di beberapa wilayah dekat aliran Kali Bekasi. Mikroplastik adalah partikel kecil dari plastik yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui air, makanan, atau udara, dan diduga berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan seperti gangguan hormon dan pencernaan.



Upaya Pemerintah dan Komunitas

Untuk mengatasi krisis ini, Pemerintah Kota Bekasi meluncurkan program “Bekasi Bebas Plastik 2025”, yang mencakup pelarangan penggunaan kantong plastik di pasar tradisional dan pusat perbelanjaan, serta pelatihan bagi warga tentang pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.


“Kami tidak bisa bergerak sendiri. Edukasi publik menjadi kunci. Kami menggandeng komunitas, sekolah, dan pelaku usaha dalam kampanye pengurangan plastik,” jelas Yudhianto. Beberapa sekolah telah mulai menerapkan program “zero waste” dengan membawa kotak makan sendiri dan tidak menggunakan plastik sekali pakai.


Salah satu komunitas lingkungan, Green Bekasi Movement, turut aktif dalam menggelar kegiatan bersih sungai dan edukasi lingkungan di sekolah-sekolah. “Kami ingin generasi muda paham bahwa tindakan kecil, seperti membawa botol minum sendiri, bisa berdampak besar,” ujar Fadli Ramadhan, ketua komunitas tersebut.


Selain itu, pemerintah juga menjalin kerja sama dengan perusahaan swasta dalam pembangunan fasilitas daur ulang plastik skala kecil dan menambah titik Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di sejumlah kecamatan.


Harapan ke Depan


Meski berbagai upaya telah dilakukan, tantangan masih besar. Tingkat konsumsi plastik terus meningkat seiring dengan gaya hidup praktis dan kebiasaan konsumtif masyarakat urban. Bekasi masih membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih canggih dan sinergi yang kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.


“Kalau tidak segera berubah, kita bukan hanya menghadapi lingkungan yang rusak, tapi juga generasi yang sakit,” tutup Yudhianto.


Dengan edukasi yang konsisten, penegakan hukum terhadap pembuangan sampah sembarangan, serta kesadaran kolektif untuk mengurangi penggunaan plastik, Bekasi masih memiliki peluang untuk keluar dari krisis ini dan menjadi kota yang bersih dan berkelanjutan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abelio Vallen Koloay - Mahasiswi ITB Jadi Tersangka Usai Unggah Meme Kontroversial Prabowo-Jokowi di X

Cindy Herdiana - Menjelang Idul Adha, Penjualan Sapi Qurban di Cikarawang Dramaga Mulai Ramai (sosial budaya)

Nenty Kuliner dan wisata